Sewa Vila & rumah di Bali
| Uma Sari
Cottage |
 |
Untuk 2 orang
Tarif untuk 2: 40 € per
hari
Area: Ubud
Photo Akomodasi |
| Gajah Putih
Villa |
 |
Untuk 12 orang
Tarif untuk 12: 2872 € per
hari
Area: Canggu
Photo Akomodasi |
| Puri Dalem
Cottage |
 |
Untuk 2 orang
Tarif untuk 2: 65 € per
hari
Area: Ubud
Photo Akomodasi |
| Bedugul Villa/Lake View
Villa |
 |
Untuk 4 orang
Tarif untuk 4: 200 € per
hari
Area: Bedugul
Photo Akomodasi |
|
Your selection is empty. You must select at least 1 accommodation
either from:
List of our Bali villa and house rentals
or from Result of your search.
|
Artikel - Artikel Tentang Keunikan Bali
• Pereret Pengasih - Asih Pencari Jodoh Pereret Pengasih-Asih ini adalah sarana yang sangat ampuh dipakai untuk menguna-gunai gadis sebab apabila gadis tadi tidak jadi kawin dengan pria tersebut maka gadis itu bisa menjadi gila.
Pereret Pengasih-Asih ini sangat jarang dipakai oleh para perjaka, kecuali dalam keadaan sangat terpaksa seperti misalnya gadis itu suka menghina laki-laki, merendahkan martabat laki-laki, sehingga laki-laki terutama perjaka itu bisa mengambil jalan pintas yaitu dengan menggunakan segala cara termasuk menggunakan pereret pengasih-asih untuk menakklukkan gadis yang menghinanya tersebut dan terakhir sampai bisa menjadi istri.
|
• Jegog Mebarung Kesenian Khas Kabupaten Jembrana Awalnya, jegog hanyalah berupa tabuh (barung tabuh) yang fungsi awalnya sebagai hiburan para pekerja bergotong royong membuat atap rumah dari daun pohon rumbia, dalam istilah bali bekerja bergotong royong membuat atap dari daun pohon rumbia disebut “nyucuk”, dalam kegiatan ini beberapa orang lagi menabuh gambelan jegog. Dalam perkembangan selanjutnya gambelan jegog juga dipakai sebagai pengiring upacara keagamaan, resepsi pernikahan, jamuan kenegaraan, dan kini sudah dilengkapi dengan drama tarian-tarian yang mengambil inspirasi alam dan budaya lokal seperti yang namanya Tabuh Trungtungan, Tabuh Goak Ngolol, Tabuh Macan Putih dengan tari-tariannya seperti Tari Makepung, Tari Cangak Lemodang, sebagai seni pertunjukan wisata.
|
• Titi Ugal Agil Jembatan Menuju Bale Peangen-agen Di Neraka Loka Diceritakan di atmaloka, seluruh atma ada pada suatu tempat yang luas. Semuanya mendapat siksaan, namun tak terluka oleh senjata, tak terbakar oleh api. Para atma mengalami semua itu tak bedanya seperti orang yang tertidur lelap dan bermimpi. Kadangkala bermimpi indah dan sesudah itu bermimpi buruk. Segala macam penderitaan atma disaksikan oleh Bhagawan Penyarikan dan kemudian bersabda kepada atma semuanya termasuk kepada Sang Tutulak. “Kalian masih selalu ingat saat di manusapada. Kalian tidak sadar bahwa semasa hidup dikuasai dan diperbudak oleh kekuatan dasendria yang menjerumuskan kalian di dunia”. Demikian sabda Sang Bhagawan yang didengarkan oleh para atma. Para atma kemudian terus menerus mendekati dan menanyakan mengenai dirinya kepada Bhagawan Penyarikan. Dan wejangan dari Bhagawan Penyarikan dapat menyejukkan para atma yang sedang mengalami siksaan.
|
• Taru Rambut Diatas Makam Keramat Raden Ayu Pemecutan di Sertra Badung Tersebutlah seorang raja di Puri Pemecutan yang bergelar I Gusti Ngurah Gede Pemecutan. Salah seorang putri beliau bernama Gusti Ayu Made Rai. Sang putri ketika menginjak dewasa ditimpa penyakit keras dan menahun yakni sakit kuning. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk menyembuhkan penyakit tersebut, namun tidak kunjung sembuh pula. Sang raja ketika itu mengheningkan bayu sabda dan idep, memohon kehadapan Hyang Kuasa, di merajan puri. Dari sana beliau mendapatkan pewisik bahwa Sang Raja hendaknya mengadakan sabda pandita ratu atau sayembara.
|
• Tari Wali Ciptaan Dewa Brahma Kesenian dalam perspektif Hindu di Bali mempunyai kedudukan yang sangat mendasar, karena tidak dapat dipisahkan dari relegius masyarakat Hindu di Bali. Upacara di pura-pura (tempat suci) juga tidak lepas dari kesenian seperti seni suara, tari, karawitan, seni lukis, seni rupa, dan sastra. Candi-candi, pura-pura dan lain-lainya dibangun sedemikian rupa sebagai ungkapan rasa estetika, etika, dan sikap relegius dari para umat penganut Hindu di Bali. Pregina atau penari dalam semangat ngayah atau bekerja tanpa pamerih mempersembahkan kesenian tersebut sebagai wujud bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan). Di dalamnya ada rasa bhakti dan pengabdian sebagai wujud kerinduan ingin bertemu dengan sumber seni itu sendiri dan seniman ingin sekali menjadi satu dengan seni itu karena sesungguhnya tiap-tiap insan di dunia ini adalah percikan seni.
|
• Pengiwa dan Kundalini Ilmu Menuju Jalan Kesempurnaan Mencapai Moksa Leak Sari, Ada beberapa hal harus diketahui oleh masyarakat Bali, bahwa ajaran pengiwa merupakan ajaran yang harus dihormati. Karena di Bali sendiri pengiwa merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Ini tidak bisa dilepaskan dari tata keagamaan yang ada di tengah masyarakat. Pengiwa sendiri merupakan ilmu menuju jalan kesempurnaan, asalkan dijalankan secara tekun. Pengiwa sendiri bagian dari ilmu tantra bairawa yakni kekuatan (energi) dan mantra (kekuatan pikiran). Tidak hanya pengiwa saja, semestinya penengen dan pengiwa ini merupakan lambang kiwa tengen atau unsur positif dan negatif yang saling berhubungan. Ini merupakan ajaran paham Çiwa yang lebih menekankan pada energi dan mantra. Ini simbul kekuatan alam yang ada pada diri manusia yang harus diolah, tidak semua orang bisa mempelajarinya karena ada beberapa persyaratan yang harus dilaksanakan tidak asal mempelajarinya.
|
• Pacuan Kerbau (Mekepung) Atraksi Mekepung ini hanya ada di belahan Bali Barat yaitu di Kabupaten Jembrana. Mekepung artinya berkejar-kejaran, inspirasinya muncul dari kegiatan tahapan proses pengolahan tanah sawah yaitu tahap melumatkan tanah menjadi lumpur dengan memakai bajak lampit slau. Dalam proses melumatkan tanah, petani sawah bekerja secara gotong royong bersama rekan-rekannya petani sawah termasuk beserta sanak keluarganya dalam mempersiapkan konsumsinya. Bajak lampit slau ditarik oleh dua ekor kerbau dan sebagai alat menghias kerbau maka pada leher kerbau tersebut dikalungi genta gerondongan (gongseng besar) sehingga apabila kerbau tersebut berjalan menarik bajak lampit slau maka akan kedengaran bunyi seperti alunan musik rok (dengan suara gejreng-gejreng), karena bekerja gotong royong maka ada bajak banyak yang masing-masing ditarik oleh dua ekor kerbau yang ditunggangi oleh seorang sais/Joki duduk di atas bajak lampit slau.
|
• Masyarakat Bali Dalam Kehidupan Beragama Masyarakat Hindu di Bali dalam kehidupan sehari-harinya selalu berpedoman pada ajaran Agama Hindu warisan para lelulur Hindu di Bali terutama dalam pelaksanaan upacara ritual dalam hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam tetap berlandaskan ajaran-ajaran Agama Hindu dan dalam pelaksanaan Upacara Keagamaan
|
|